Tampilkan postingan dengan label ekonomi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

Ide Ekonomi Kreatif dari Upin-Ipin-nya Chikita Fawzi: Marissa Haque & Ikang Fawzi


Jum'at, 30 April 2010 - 15:39 wib

Tomi Tresnady - Okezone Ikang Fawzi (Foto:Johan Sompotan/okezone)

JAKARTA - Memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jejak Ikang Fawzi yang beken sebagai penyanyi rock, diikuti oleh putri bungsunya, Marsha Chikita Fawzi (Kiki). Kiki tengah kuliah di Multimedia University (MMU) Malaysia. Selain fokus kuliah, Kiki menyempatkan waktu menekuni hobi di bidang musik. Diam-diam dia membentuk band rock bersama teman-teman prianya di sana."Ternyata dia punya band, namanya Diary. Itu grup metal. Laki-laki semua, gondrong-gondrong. Dia perempuan sendiri.

Orang Malaysia sudah terbiasa sama dia. Orang Malaysia sangat bangga sama dia," ungkap Ikang yang ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (29/4/2010) malam. Kiki terang-terangan menyatakan keinginan menjadi seorang entertainer seperti ayah dan ibunya. Tidak tanggung-tanggung, Kiki membidik pasar musik internasional."Dia katanya mau tembus Singapura supaya dia bisa tembus internasional. Dengan bangga, dia bilang ke saya, 'Ayah, sekarang saya jadi rock star'. Nangis saya dibuatnya," aku Ikang. Sebagai orangtua, Ikang memberikan dukungan penuh kepada Kiki. Selama si bungsu berada di Negeri Jiran, Ikang selalu menyempatkan menjalin komunikasi. "Komunikasi tetap jalan. Lewat FB dan sms. Saya kangen lah, namanya juga anak bontot," ujar suami Marissa Haque ini. (ang)

Sumber:http://celebrity.okezone.com/read/2010/04/30/34/328062/si-bontot-jadi-rock-star-ikang-fawzi-nangis

Selasa, 11 Januari 2011

Marissa Haque & Ikang Fawzi: Islam, LP3I & Enterpreneurship "Elevate" Kesejahteraan Distributif

ayah__ibu_1
Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/52507/marissa-haque-wirausaha-perlu-kognisi-standar-s1

05 Jan 2011 23:56:03| Pendidikan/Pesantren |Penulis : Ayu Citra

 Surabaya - Kemampuan wirausaha dalam menciptakan lapangan pekerjaan perlu memiliki kognisi (kepandaian) minim berstandar S1 karena perkembangan dunia bisnis kian pesat ke depan. "Untuk itu, mahasiswa yang mengenyam pendidikan setara diploma yang selama ini unggul di praktek kerja lapangan wajib meningkatkan kognisinya," kata Pengamat Kewirausahaan, Marissa Haque, di Wisuda LP3I Surabaya, Rabu.

Menurut dia, menjadi seorang pengusaha yang tangguh menghadapi tantangan bisnis masa kini tidak cukup dengan mengandalkan bekal praktek kerja lapangan. "Walau modal praktek mereka sudah diakui di dunia kerja, calon pengusaha tetap perlu pendidikan tinggi dan memperdalam kognisinya dengan kuliah lagi," ujar perempuan yang juga menyandang sebagai Duta LP3I. Terkait banyaknya calon pekerja dari lulusan lembaga pendidikan profesi, ia mengaku, kelebihan mereka ada pada kemampuan psikomotorik (keterampilan). "Apalagi, metode pendidikannya mengubah urutan pengajaran S1 yang selama ini mendahulukan kognisi, disusul afeksi 'internal relationship', dan psikomotorik," katanya.

 Beda dengan metode di lembaga pendidikan profesi, ia menyebutkan, di sana lebih mementingkan pengajaran psikomotorik, afeksi, dan kognisi. "Sementara, sesuai pengalaman pribadinya jenjang pendidikan S1 di Indonesia hanya mengandalkan selembar ijazah," katanya. Kondisi tersebut, lanjut dia, karena selama menempuh pendidikan tinggi di bangku kuliah komposisi praktek kerja lapangan sangat minim. "Akibatnya ketika mereka lulus, mayoritas penyandang S1 bingung mencari kerja karena hanya ingin kerja sebagai bos," katanya. (foto: blog marissa haque)